Articles

Perilaku Tidak Profesional Saat Wawancara Kerja

Ketika Anda akan melamar kerja ke perusahaan, pasti sudah dipersiapkan mulai dari membuat CV yang baik dan bagus. Mempersiapkan diri untuk proses psikotest dan interview. Anda tidak mungkin terlambat untuk sesi wawancara. Anda tahu tentang pentingnya melakukan kontak mata dan memberikan jabatan erat saat berhadapan dengan bagian perekrutan atau HR. Namun, apakah Anda tahu kalau ternyata ada beberapa hal yang bisa membuat Anda terkesan buruk di hadapan bagian HR atau perekrutan? Berikut beberapa perilaku tidak profesional yang mungkin Anda lakukan saat wawancara kerja seperti dikutip dari Themuse.com.

Anda putus asadan menunjukkannya

Mungkin perasaan putus asa memang ada dalam diri. Anda minder saat membandingkan kemampuan diri dengan syarat kualifikasi pelamar kerja yang diminta perusahaan. Anda juga merasa rendah diri saat melihat kandidat lain dengan pengalaman kerja yang banyak dan pendidikan yang tinggi.

Menunjukkan rasa putus asa adalah perilaku yang tidak profesional. Orang lain bisa melihat aura negatif tersebut meski Anda berada sejauh satu kilometer, sebab hal itu sulit ditutupi. Tapi, Anda harus tahu cara menampakkan kepercayaan diri. Yakinlah bahwa Anda adalah calon pegawai yang berkualias dan berguna untuk perusahaan. Anda harus bisa mengungkapkan cara untuk berkontribusi untuk perusahaan. Pencari kerja memang seharusnya menjelaskan visi dalam karier. Hindari menjadi orang yang selalu mengatakan ya. Tunjukkan rasa ingin tahu dan ketertarikan pada perusahaan. Jangan hanya berbicara tentang diri sendiri tanpa henti. Buatlah pewawancara tertarik pada Anda. Jangan menyerah.

Tidak menjadi diri sendiri

Jangan menyembunyikan kepribadian asli Anda saat wawancara kerja. Anda tidak bisa menjadi orang dengan kepribadian yang serba baik di hadapan pewawancara. Padahal Anda tidak sesempurna itu. Sebab, Anda tidak mungkin memainkan operan protagonis di kantor dan menjadi diri sendiri di rumah. Hal itu akan sangat melelahkan. Saat wawancara kerja, Anda bisa menjadi diri sendiri. Anda bisa berbagi cerita tentang kebiasaan di luar pekerjaan yang mungkin dianggap aneh yang mungkin berisiko dianggap tidak profesional. Misalnya, Anda bisa katakan kalau suka menonton acara gulat di akhir pekan. Pembicaraan ini akan diingat oleh pewawancara. Hal ini lebih baik daripada berbohong dengan mengatakan kalau Anda gemar membaca buku tentang motivasi dan karier di waktu luang.

Tidak menyelesaikan pekerjaan rumah

Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca tentang pentingnya meriset perusahaan yang akan Anda datangi. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus Anda selesaikan sebelum wawancara kerja. Anda ingin terlihat pandai saat berbicara. Maka Anda membuka situs perusahaan, melihat company profile, memahami visi dan misi mereka, hingga mencari tahu tentang kiprah para founder di dunia bisnis. Jika hanya mempelajari perusahaan sampai di situ, maka Anda belum benar-benar menyelesaikan pekerjaan rumah. Semua informasi yang ada di situs perusahaan hanyalah pengetahuan dasar. Pewawancara mungkin sudah bosan mendengarnya.

Kalau Anda ingin mendapat pekerjaan, maka carilah berita terbaru tentang perusahaan. Anda bisa memperhatikan pernyataan pimpinan dan melihat arah dari strategi perusahaan. Jika Anda mengincar pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil, maka baca saja blog dan media sosialnya. Dengan begitu, Anda bisa meyesuaikan diri. Anda bisa tahu bagaimana peran dan kontribusi yang bisa diberikan untuk perusahaan. Sehingga Anda bisa tumbuh bersama organisasi.

Persona di media sosial

Sebagian orang punya akun Twitter, Facebook, Instagram, Path dan lain sebagainya. Anda tahu itu. Manajer perekrutan juga memahaminya. Mungkin Anda datang ke sesi wawancara kerja dengan menampilkan diri yang baik luar-dalam.

Tapi, manajer perekrutan zaman sekarang mau bergerak lebih jauh untuk meneliti siapa Anda sebenarnya. Mereka akan melihat bagaimana persona Anda di media sosial. Mungkin Anda tampak sebagai pribadi yang santun, tapi Google pernah mencatat kata-kata kasar Anda di media sosial. Misalnya, Anda pernah menjelekkan guru di sekolah, dosen di kampus atau bos di perusahaan sebelumnya. Jika manajer perekrutan mengetahui hal ini, maka dia akan berpikir Kalau kandidat ini pernah menghina dosen di belakang, mungkin suatu saat juga akan mengatakan hal buruk tentang perusahaan. Jadi Anda harus berhati-hati di media sosial. Persona buruk yang ditampilkan di media sosial bisa membuat Anda tampak tidak profesional.

Jadi, ketika sedang menjemput impian bekerja di satu perusahaan, pastikan Anda tampil sebagai kandidat yang profesional dan sesuai harapan perusahaan. Anda harus mempersiapkan lebih daripada sekadar resume bebas typo. Bawalah salinan aplikasi untuk bahan wawancara. Anda bisa memoles diri di bagian yang bisa membuat Anda tidak profesional. Qerja.com

Sumber : http://www.qerja.com/journal/view/4239-perilaku-tidak-profesional-saat-wawancara-kerja/2/


Editor : Novi Kurnia Maulidta - Binus Career Consultant


Uploaded By : Nurlianti Auliani
Last Update : 23/01/2017

Printer Friendly Version

Email this to a friend

User Login

 
 
 

Not Registered yet?

Our Services

Binuscareer Profile

  • Active JobSeekers : 1157
  • Available Position : 40785
  • Total Jobseekers : 541116
  • Total Employer : 11795